Tampilkan postingan dengan label Buletin SMART. Tampilkan semua postingan
POSTAR News
Selamat Atas Terpilihnya Ketua Lingkar Sastra Tarbiyah
Rabu
SEGENAP KELUARGA BESAR
POSTAR
Mengucapkan Selamat Atas Terpilihnya:
Linda Pramita
Sebagai Ketua Lingkar Sastra Tarbiyah (LST) POSTAR
2009-2010
"Kita Wujudkan Eksistensi Tarbiyah dengan
Tinta Imajinatif dan Kreativitas"
POSTAR
Mengucapkan Selamat Atas Terpilihnya:
Linda Pramita
Sebagai Ketua Lingkar Sastra Tarbiyah (LST) POSTAR
2009-2010
"Kita Wujudkan Eksistensi Tarbiyah dengan
Tinta Imajinatif dan Kreativitas"
Posted in Buletin SMART by INDRA - POSTAR | 0 komentar
Email this postPuisi-Puisi SMART Bulletin
Jumpa Sahabat
Oleh: Ezzy (PBI, Semester II)
Abadi kerinduan kepada yang selalu bukan,
Nurani sendiri tak berpegang
Tuhan sembunyi dalam kebisuan
Badan akan habis ku cacah sendiri
Namun suara it uterus dalam kegundahan
Melewati batas ini . . .
Sampai segala yang ada, dikikir waktu tanpa sisa
Sahabat tak jua ketemu
Padahal sudah jelas menyatu. (*)
Gudang
Oleh: Arista (Biologi, Semester IV)
Di akhir subuh
Di awal munculnya matahari
Cengkrama dua sejoli memecah sunyi
Surti si Tukang pasir memulai
Pak, andai bila saat mentari mengintip ini
Siti telah dapat melangkah walau setapak,
Kita kemanakan dia?
Ratman, si Tukang Batu menjawab
Andai bila si Siti telah mampu menopang
berat tubuhnya
Juga melangkah barang setapak,
Peluhku takkan ku hemat
Lelahku takkan ku tabung
Kan ku pecah bongkahan batu
Hingga hancur berkeping-keping
Ku benahi jalan hancur itu
Ku tutup hingga tak berlubang
Dan kau akan menutupnya dengan pasir-pasirmu
Kita bimbing Siti melalui jalan yang kita benahi
Kita titih Siti menuju gedung itu
Bukan gedung yang tanpa arti
Gedung itu adalah gudangnya ilmu
Tak ku biarkan si Siti menuju gudang batu
Atau pergi menambang pasir sepertimu
Posted in Buletin SMART by INDRA - POSTAR | 0 komentar
Email this postBocah Reformasi
Cerpen SMART Bulletin
Oleh: Muttaqien *
POSTAR - Mohon perhatian! Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara. Pemilu Presiden sebentar lagi. Saatnya kita memilih. Jangan sampai salah pilih nanti, karena pilihan kalian akan menetukan masa depan bangsa ini.”
“Upp... Jangan lupa, pilihlah saya! Karena saya akan memenuhi semua permintaan kalian, saya punya segalanya. Oleh karena itu cobloslah nomor 4!”
Suasana di ruang tamu siang itu seketika berubah heboh mendengar celetukan adikku yang baru saja pulang sekolah Madrasah Persada bersama Ibuku. Saya, Fahmi, Adul, Nia dan Vifi yang kebetulan sedang konsentrasi menyelesaikan tugas kuliyah malah menjadi tak karuan, ikut memalingkan memperhatikan dan menertawakan aksi adikku.
Saya sendiri juga heran, akhir-akhir ini dia senang sekali dengan kalimat-kalimat politik. Kalimat yang ia dapatkan entah dari mana. Aku tidak begitu faham. Ketika menjelang makan. Ketika ingin tidur, dan bahkan ketika di kamar mandi ia selalu mengucapkan kalimat yang sama, “Aku ingin menjadi presiden!” Tapi di satu sisi saya juga bangga karena adik saya punya cita-cita yang sangat tinggi.
Perkara bias tercapai atau hanya sekedar menghayal, tidak apa-apa. Punya keinginan paling tidak membuat ada arah yang pasti pendidikannya ke depan di tengah persaingan dunia yang semakin ketat ini.
“Adikku mau jadi pemimpin ya?” Tanyaku manja.
“Ya, memangnya nggak boleh ya, Kak?”
“Boleh dong… cita-cita kamu bagus kok. Kakak sangat mendukung.”
“Ya, bagus, baguuss….,” tanggap Vivi sambil mengacungkan dua jempolnya ke arah Faruq.
“Tapi, kenapa Faruq mau jadi pemimpin? Pemimpin itu kan banyak kerjaannya,” tambah Nia lambat.
Faruq spontan menjawab.
“Karena aku sudah capek diperintah! Disuruh Ibu ke warung. Disuruh Ayah belajar. Disuruh kakak ngangkat air minum. Disuruh nenek kesitulah, kesinilah! Capek dong, makanya Faruq mau jadi pemimpin aja.”
“O, jadi adik pikir pemimpin itu tukang kasih perintah, gitu?” responku tegas.
“Bukan Cuma tukang perintah, Kak! Tukang larang juga. Tidak boleh tidur larut malam. Tidak boleh main di luar pagar. Tidak boleh main PS lama-lama. Banyak tidak boleh yang lain. Cape dehh….”
Gelak tawa teman-temanku pun kembali membahana. Memenuhi ruangan. Memantul hingga menerobos tirai hijau yang terpampang rapih di jendela-jendela dan pintu kamar. Suara temanku Adul begitu.
Tak berapa lama suasana hening. Faruq ingin melangkah menuju dapur. Namun, Fahmi kembali bertanya kepada adikku.
“Berarti selama ini Faruq nggak bebas ya di rumah ini?
“Persisi!”
Spontan saya terkejut.
Jawaban yang cukup singkat itu telah berhasil membuat bulu kudukku berdiri, hingga terasa sejuk ke ubun-ubun. Jantungku berdegub kencang, membuat darahku mengalir deras ke seluruh tubuh. Begitu galau begitu dingin. Saya langsung meraih tangan Faruq dan mendekatkannya ke tempat dudukku. Sejak seminggu ini saya sudah merasakan merasakan ada gelagat yang tidak beres dengannya. Namun hal itu saya anggap tidak penting. Tapi kali ini ia sudah berlebihan. Dan ini adalah saat yang tepat untuk meluruskannya. Ia meronta-ronta, namun saya berusaha menahannya.
“Dik, coba dengar Kakak! Adik nggak boleh ngomong seperti itu lagi ya… Sama Ayah, Ibu, Nenek atau siapa aja. Itu nggak sopan namanya. Kamu pikir pemimpin itu raja bebas apa?”
“Ya dong, Kak. Kalau tidak bebas itu bukan pemimpin namanya. Ini zaman demokrasi.”
“Tahu apa kamu tentang demokrasi. Kamu itu salah! Siapa yang ngajarin begitu? Pemimpin itu justru orang yang paling sibuk sedunia. Buat seorang pemimpin tidak ada hari libur. Karena semua hari-harinya itu adalah kerja dan kerja. Paham!”
“Itu pemimpin bego.”
Uhhh….” Saya geram.
“Ruq sayang…, Ayo ke sini nak. Jangan ganggu kakak-kakanya!” Suara Ibuku terdengar sayup dari arah dapur.
“Cepat pergi sana!”
“Bentar lagi Bu…, Eh dengerin ya, Kak! Kalau BBM naik, rakyat antrian beli sampai satu kilometer, sedangkan pemimpin tinggal makan saja kan. Yang masak rakyat. Masak pemimpin masak sendiri, itu lucu. Terus kalau rakyat dijeblos ke penjara Cuma karena nggak jadi maling ayam, pemimpin yang makan uang rakyat puluhan miliar malah diampuni dan dijadikan pahlawan. Itu kan enak, Kak.”
“Tapi tanggung jawab yang harus diemban oleh seorang pemimpin itu sangat besar, Dik. Disamping harus memikirkan nasi dan lauk pauk rakyatnya, ia jga harus menyelesaikan utang dan ribuan kasus yang menimpa negerinya, seperti sekarang ini."
“Pemikiran Kakak terlalu pendek sih, bukannya ada menteri yang mengurus masing-masing tugasnya. Sedangkan pemimpin Cuma simbol doang. Ibarat patung pancoran, gituu.”
“Uuhhhgg...”
Emosiku semakin memuncak. Kulihat Fahmi dan Vivi sudah tidak sabar ingin menanggapi penjelasan adikku. Tapi Faruq langsung memotongnya.
“No, no no. Kalian tidak bisa menghalangi jalanku untuk menjadi pemimpin masa depan, karena sejak permasalahan BBM tahun lalu, saya sudah memikirkan hal ini secara masak-masak. Tekadku sudah bulat. Merdeka! Merdeka!”
“Dik dik, Kakak senang kamu punya cita-cita tinggi, asalkan jalannya benar. Jangan cuma mau ambil yang enaknya saja, dosa.”
“Stop! Faruq tidak butuh ceramah. Faruq punya pekerjaan yang lebih penting.”
Serentak teman-temanku dibuat bingung.
Faruq mulai beraksi. Ia meloncat-loncat ke sana ke mari. Sesekali berkeliling-keliling sambil bernyanyi potong bebek angsa. Mengitari ruang tengah hingga ke arah teras. Entah apa maksudnya. Dan tak berapa lama kemudian ia duduk diam di depan televisi berukuran 21 Inci di sudut ruang tamu. ‘STAR’ permainan PS pun dimulai.
Melihat tingkah adikku, saya dan teman-teman cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala dan mengurut dada. Sebab berdebat dengan wong licik zaman sekarang ini adalah sama saja. Sama-sama dibuat pusing, karena terlalu banyak menguras otak. Sedangkan hasilnya tidak pernah menciptakan satu perubahan apapun. Urusan argumen, manusia politik kita berbondong-bondong untuk sekedar memamerkan gigi mereka masing-masing ke khalayak ramai. Sedangkan prakteknya tidak pernah kelihatan di permukaan. Itu berarti sama saja dengan ocehan panjang adikku yang masih merangkak di kelas 4 Sekolah Dasar.(*)
*)Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Semester IV
Oleh: Muttaqien *
POSTAR - Mohon perhatian! Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara. Pemilu Presiden sebentar lagi. Saatnya kita memilih. Jangan sampai salah pilih nanti, karena pilihan kalian akan menetukan masa depan bangsa ini.”
“Upp... Jangan lupa, pilihlah saya! Karena saya akan memenuhi semua permintaan kalian, saya punya segalanya. Oleh karena itu cobloslah nomor 4!”
Suasana di ruang tamu siang itu seketika berubah heboh mendengar celetukan adikku yang baru saja pulang sekolah Madrasah Persada bersama Ibuku. Saya, Fahmi, Adul, Nia dan Vifi yang kebetulan sedang konsentrasi menyelesaikan tugas kuliyah malah menjadi tak karuan, ikut memalingkan memperhatikan dan menertawakan aksi adikku.
Saya sendiri juga heran, akhir-akhir ini dia senang sekali dengan kalimat-kalimat politik. Kalimat yang ia dapatkan entah dari mana. Aku tidak begitu faham. Ketika menjelang makan. Ketika ingin tidur, dan bahkan ketika di kamar mandi ia selalu mengucapkan kalimat yang sama, “Aku ingin menjadi presiden!” Tapi di satu sisi saya juga bangga karena adik saya punya cita-cita yang sangat tinggi.
Perkara bias tercapai atau hanya sekedar menghayal, tidak apa-apa. Punya keinginan paling tidak membuat ada arah yang pasti pendidikannya ke depan di tengah persaingan dunia yang semakin ketat ini.
“Adikku mau jadi pemimpin ya?” Tanyaku manja.
“Ya, memangnya nggak boleh ya, Kak?”
“Boleh dong… cita-cita kamu bagus kok. Kakak sangat mendukung.”
“Ya, bagus, baguuss….,” tanggap Vivi sambil mengacungkan dua jempolnya ke arah Faruq.
“Tapi, kenapa Faruq mau jadi pemimpin? Pemimpin itu kan banyak kerjaannya,” tambah Nia lambat.
Faruq spontan menjawab.
“Karena aku sudah capek diperintah! Disuruh Ibu ke warung. Disuruh Ayah belajar. Disuruh kakak ngangkat air minum. Disuruh nenek kesitulah, kesinilah! Capek dong, makanya Faruq mau jadi pemimpin aja.”
“O, jadi adik pikir pemimpin itu tukang kasih perintah, gitu?” responku tegas.
“Bukan Cuma tukang perintah, Kak! Tukang larang juga. Tidak boleh tidur larut malam. Tidak boleh main di luar pagar. Tidak boleh main PS lama-lama. Banyak tidak boleh yang lain. Cape dehh….”
Gelak tawa teman-temanku pun kembali membahana. Memenuhi ruangan. Memantul hingga menerobos tirai hijau yang terpampang rapih di jendela-jendela dan pintu kamar. Suara temanku Adul begitu.
Tak berapa lama suasana hening. Faruq ingin melangkah menuju dapur. Namun, Fahmi kembali bertanya kepada adikku.
“Berarti selama ini Faruq nggak bebas ya di rumah ini?
“Persisi!”
Spontan saya terkejut.
Jawaban yang cukup singkat itu telah berhasil membuat bulu kudukku berdiri, hingga terasa sejuk ke ubun-ubun. Jantungku berdegub kencang, membuat darahku mengalir deras ke seluruh tubuh. Begitu galau begitu dingin. Saya langsung meraih tangan Faruq dan mendekatkannya ke tempat dudukku. Sejak seminggu ini saya sudah merasakan merasakan ada gelagat yang tidak beres dengannya. Namun hal itu saya anggap tidak penting. Tapi kali ini ia sudah berlebihan. Dan ini adalah saat yang tepat untuk meluruskannya. Ia meronta-ronta, namun saya berusaha menahannya.
“Dik, coba dengar Kakak! Adik nggak boleh ngomong seperti itu lagi ya… Sama Ayah, Ibu, Nenek atau siapa aja. Itu nggak sopan namanya. Kamu pikir pemimpin itu raja bebas apa?”
“Ya dong, Kak. Kalau tidak bebas itu bukan pemimpin namanya. Ini zaman demokrasi.”
“Tahu apa kamu tentang demokrasi. Kamu itu salah! Siapa yang ngajarin begitu? Pemimpin itu justru orang yang paling sibuk sedunia. Buat seorang pemimpin tidak ada hari libur. Karena semua hari-harinya itu adalah kerja dan kerja. Paham!”
“Itu pemimpin bego.”
Uhhh….” Saya geram.
“Ruq sayang…, Ayo ke sini nak. Jangan ganggu kakak-kakanya!” Suara Ibuku terdengar sayup dari arah dapur.
“Cepat pergi sana!”
“Bentar lagi Bu…, Eh dengerin ya, Kak! Kalau BBM naik, rakyat antrian beli sampai satu kilometer, sedangkan pemimpin tinggal makan saja kan. Yang masak rakyat. Masak pemimpin masak sendiri, itu lucu. Terus kalau rakyat dijeblos ke penjara Cuma karena nggak jadi maling ayam, pemimpin yang makan uang rakyat puluhan miliar malah diampuni dan dijadikan pahlawan. Itu kan enak, Kak.”
“Tapi tanggung jawab yang harus diemban oleh seorang pemimpin itu sangat besar, Dik. Disamping harus memikirkan nasi dan lauk pauk rakyatnya, ia jga harus menyelesaikan utang dan ribuan kasus yang menimpa negerinya, seperti sekarang ini."
“Pemikiran Kakak terlalu pendek sih, bukannya ada menteri yang mengurus masing-masing tugasnya. Sedangkan pemimpin Cuma simbol doang. Ibarat patung pancoran, gituu.”
“Uuhhhgg...”
Emosiku semakin memuncak. Kulihat Fahmi dan Vivi sudah tidak sabar ingin menanggapi penjelasan adikku. Tapi Faruq langsung memotongnya.
“No, no no. Kalian tidak bisa menghalangi jalanku untuk menjadi pemimpin masa depan, karena sejak permasalahan BBM tahun lalu, saya sudah memikirkan hal ini secara masak-masak. Tekadku sudah bulat. Merdeka! Merdeka!”
“Dik dik, Kakak senang kamu punya cita-cita tinggi, asalkan jalannya benar. Jangan cuma mau ambil yang enaknya saja, dosa.”
“Stop! Faruq tidak butuh ceramah. Faruq punya pekerjaan yang lebih penting.”
Serentak teman-temanku dibuat bingung.
Faruq mulai beraksi. Ia meloncat-loncat ke sana ke mari. Sesekali berkeliling-keliling sambil bernyanyi potong bebek angsa. Mengitari ruang tengah hingga ke arah teras. Entah apa maksudnya. Dan tak berapa lama kemudian ia duduk diam di depan televisi berukuran 21 Inci di sudut ruang tamu. ‘STAR’ permainan PS pun dimulai.
Melihat tingkah adikku, saya dan teman-teman cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala dan mengurut dada. Sebab berdebat dengan wong licik zaman sekarang ini adalah sama saja. Sama-sama dibuat pusing, karena terlalu banyak menguras otak. Sedangkan hasilnya tidak pernah menciptakan satu perubahan apapun. Urusan argumen, manusia politik kita berbondong-bondong untuk sekedar memamerkan gigi mereka masing-masing ke khalayak ramai. Sedangkan prakteknya tidak pernah kelihatan di permukaan. Itu berarti sama saja dengan ocehan panjang adikku yang masih merangkak di kelas 4 Sekolah Dasar.(*)
*)Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Semester IV
Posted in Buletin SMART by INDRA - POSTAR | 0 komentar
Email this postGoogle, Facebook, dan Ancaman Terhadap Guru
Opini SMART Bulletin
Oleh: Ali Rif’an *
POSTAR - Pada era teknologi informasi (TI) seperti sekarang ini, perkembangan ilmu pengetahuan yang menjadi pilar utama bagi penyempurnaan hidup manusia di muka bumi akan cenderung mengalami perkembangan. Hal ini ditandai dengan maraknya revolusi teknologi, ekonomi, gaya hidup, pola pikir, dan sistem rujukan masyarakat yang ada, sehingga kontrol pada materi, ruang, dan waktu pun mengalami pergeseran.
Pada titik inilah guru sebagai motor penggerak siswa akan menghadapi tantangan sekaligus ancaman.
Google dan Facebook
Guru, sebagaimana kerap disebut sebagai penentu kemajuan bangsa, pahlawan tanpa jasa, dan pejuang yang tak pernah lelah kini mulai menuai tantangan. Peran guru akan mulai tergeser seiring maraknya teknologi canggih seperti Google, Yahoo-Messenger, Friendster, Plurk, Tagget, Multiply, E-learning, ataupun jejaring sosial seperti Facebook.
Mesin pencari Google, misalnya, mampu memfasilitasi pencarian ilmu dengan sangat cepat dan praktis. Google yang diciptakan oleh Larry Page dan Sergey Brin pada tahun 1995 ini mampu membalikkan sekat keterbatasan informasi. Para siswa dapat menggali informasi apa saja dari seluruh belahan dunia tanpa harus bercapek-capek ria. Cukup duduk manis, klik, dalam hitungan detik akan muncul sesuatu yang diinginkan.Begitu pula Facebook, jejaring sosial yang sedang marak digandrungi masyarakat ini
cukup memiliki pengaruh besar dalam menggeser peran guru sebagai seorang pendidik. Untuk sekarang ini, menurut beberapa survey, Facebook merupakan jaringan sosial online nomor satu di internet yang paling sering dikunjungi. Bahkan beberapa stasiun televisi seperti MetroTV, SCTV, dan RCTI memanfaatkan Facebook sebagai feedback (tanggapan, saran, dan kritik) dari pemirsa setianya.
Tak hanya itu, para artis, pejabat, anggota DPR, pelajar, mahasiswa, dosen, praktisi, serta para caleg dan capres-cawapres pun aktif menggunakan jejaring sosial ini. Artinya, seorang siswa ketika menggunakan layanan ini akan mendapatkan banyak pengetahuan dari luar. Karena salah satu kelebihan Facebook adalah bisa digunakan untuk konsultasi kepada orang-orang tertentu lewat layanan catting yang tersedia.
Itulah sebabnya, di sini, jika guru tidak memiliki daya peka dan tanggap terhadap perubahan sosial dan teknologi ini, lama-lama ia akan ditinggalkan muridnya.
Stagnasi Guru
Sejauh ini, masih banyak sekali ditemukan guru yang mengajar hanya terpaku pada target kurikulum yang kaku dan mekanistis, mengajar sesuai dengan bidangnya, serta gaptek dalam mengoperasikan media informasi dan teknologi.
Padahal, maraknya layanan informasi seperti Google dan Facebook yang sebenarnya tidak terdapat pada kurikulum juga harus menjadi perhatian tersendiri oleh seorang guru. Keadaan guru pada era TI berbeda sekali dengan di era kultural. Jika pada era kultural guru merupakan satu-satunya tempat untuk di’gugu’ dan di‘tiru’, dimuliakan, dihormati, dan seterusnya, maka, pada era informasi sekarang ini guru bukan satu-satunya agen informasi (agen of information).
Sejauh ini, daya kreatif dan inovatif seorang guru masih terkesan "terkurung dan terkandangi", sehingga yang terjadi adalah guru cenderung kaku dan rigid. Ini tentu bisa dilihat dari banyaknya sistem pembelajaran guru hanya terpaku pada target kurikulum yang kaku dan mekanistis, mengajar tidak sesuai dengan bidangnya, serta gaptek dalam mengoperasikan media informasi dan teknologi.
Padahal, pada era informasi seperti ini, guru sudah semestinya dapat menjadikan dirinya sebagai motivator, yang menggerakkan anak didik pada sumber belajar yang dapat diakses. Sebagai dinamisator, yaitu memantau anak didik agar mengembangkan kreativitas dan imajinasinya. Dan sebagai evaluator dan justivikator,dapat menilai dan memberi catatan, tambahan, pembendaharaan, dan sebagainya terhadap hasil temuan siswa.
Setidaknya hal-hal mendasar yang harus dilakukan oleh seorang guru di era sekarang ini adalah, pertama, seorang guru harus memiliki sikap adaptif, sebagaimana diungkapkan oleh Charles Darwin (Kompas, 16/2/09), jika manusia tidak ingin mengalami kepunahan, mereka harus memiliki sikap adaptif terhadap lingkungannya.
Dengan kata lain, setiap orang harus menjalankan proses adaptasi secara efektif dalam merespons perubahan sosio-kultural yang ada.
Kedua, guru hendaknya mulai mencoba melaksanakan strategi pendidikan yang membumi. Artinya, strategi yang dilaksanakan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan di mana proses pendidikan tersebut dilaksanakan serta memiliki relasi dengan kenyataan faktual (applicable).
Dengan strategi ini, diharapkan pendidikan kita akan mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang benar-benar dapat menghadapi tantangan zaman. (*)
*)Penulis adalah Mahasiswa Jurusan PAI B, Semester VI
Posted in Buletin SMART by INDRA - POSTAR | 0 komentar
Email this postAkhirnyaAkhirnya UAS Datang Juga!
SMART NEWS
POSTAR - Ujian Akhir Semester (UAS) sudah di depan mata. Tepatnya tanggal 15 Juni 2009 UAS ini akan dilaksanakan. Momen ini tentu saja menjadi sangat penting bagi mahasiswa/i yang peduli terhadap pencapaian kemampuan selama pelaksanaan perkuliahan. Tak pelak, para mahasiswa/i pun mulai sibuk menyiapkan materi dari masing-masing mata kuliah serta mulai menggodok mental untuk meghadapinya.
Mereka memilki cara dan sikap yang berbeda-beda dalam menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) ini. Ada yang serius menyambutnya dengan menghafal dan menelaah materi-materi mata kuliah, ada yang setengah-setengah, dan ada pula yang menghadapinya dengan santai seperti angin lalu.
“Bagi saya, UAS terasa cukup sulit. Untuk itu, saya mempersiapkan segala materi dengan matang dan bertanya kepada dosen tentang materi yang belum saya dipahami,” kata Syifa Fauziah, mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBSI).
Seperti biasa, satu minggu sebelum UAS dilaksanakan para mahasiswa/Ii diperkenankan untuk menikmati minggu tekun. Hal ini sangat penting karena setiap mahasiswa/i membutuhkan persiapan yang matang dalam menghadapi Ujian Akhir Semester. Namun, realita yang terjadi justru tidak seperti itu. Ada beberapa jurusan yang terlihat masih melaksanakan perkuliahan pada saat minggu tekun. Di sisnilah terjadi sedikit pro konta di kalangan mahasiswa/i.
Sebagaimana dilansir Tim Smart News, salah seorang mahasiswa jurusan PBA, yang tidak mau disebut namanya, mengaku keberatan atas pelaksanaan perkuliahan pada saat minggu tekun. Menurutnya, minggu tekun seharusnya dipergunakan sebagai waktu untuk memperdalam materi dengan tenang sekaligus untuk me-refresh otak.
Namun ada juga mahasiswa yang mengaku tidak masalah dengan penggunaan waktu minggu tekun untuk kegiatan perkuliahan. Menurutnya, kampus adalah tempat yang kondusif untuk belajar.
Linda Pramita, ketua Lingkar Sastra Tarbiyah (LST), misalnya, memberikan respon positif terhadap pelaksanaan ujian UAS. “Meskipun UAS dilaksanakan sangat cepat, dengan persiapan yang matang kita pasti bisa melaksanakannya,” ucapnya ketika diwawancarai Tim Smart News di tempat pelatihan teater.
Ia juga memberikan tips bagi rekan mahasiswa/i yang akan melaksanakan UAS. Menurutnya, dalam melaksanakan UAS sebaiknya dibawa enjoy. Karena jika UAS dihadapi dengan tegang justru tidak akan efektif terhadap kerja otak.
Pengalaman tahun kemarin, ketika para mahasiswa/I tidak bisa mengejarkan soal UAS, bermacam-macam komentar yang keluar. Ada yang menjadikan organisai segabagai alasan, ada pula yang memang tidak terlalu peduli degan UAS.
“Jangan pernah menjadikan organisasi sebagai tumbal atas jeleknya Indeks Prestasi (IP),” kelakar mahasiswa jurusan PAI yang tidak mau disebut namanya. “Justru dari organisasi seharusnya kita banyak belajar tentang bagaimana bersikap profesional,” tambahnya.
Menghadapi UAS yang telah di depan mata tersebut tidak lantas membuat semua mahasiswa tegang. Sabtu, 13 Juni 2009, Pojok Seni Tarbiyah (POSTAR), misalnya, mengerahkan utusan-utusannya dalam mengisi acara Tarbiyah Expo. Mereka menampilkan elemen-elemen penting di antaranya Band, PST, LST dan lain-lain. Kendati pelaksanaan UAS berlangsung, namun anggota POSTAR mengaku tetap aktif melaksanakan pelatihan rutin tiap minggu.
Menurut Tim Manajemen POSTAR, para anggota POSTAR mengaku tidak keberatan dengan latihan pada saat UAS. Yang terpenting adalah persiapan yang matang. Justru dengan adanya POSTAR, dapat mengurangi rasa tegang dalam melaksanakan UAS.
Nampaknya UAS bukanlah hal yang harus ditakuti. Dengan persiapanyang matang serta doa, semuanya insya Allah akan berjalan dengan lancar. Untuk itu, segenap Tim Redaksi Smart mengucapkan selamat menempuh Ujian Akhir Semester, semoga mendapatkan hasil yang terbaik. (Lia Kurniawati).
POSTAR - Ujian Akhir Semester (UAS) sudah di depan mata. Tepatnya tanggal 15 Juni 2009 UAS ini akan dilaksanakan. Momen ini tentu saja menjadi sangat penting bagi mahasiswa/i yang peduli terhadap pencapaian kemampuan selama pelaksanaan perkuliahan. Tak pelak, para mahasiswa/i pun mulai sibuk menyiapkan materi dari masing-masing mata kuliah serta mulai menggodok mental untuk meghadapinya.
Mereka memilki cara dan sikap yang berbeda-beda dalam menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) ini. Ada yang serius menyambutnya dengan menghafal dan menelaah materi-materi mata kuliah, ada yang setengah-setengah, dan ada pula yang menghadapinya dengan santai seperti angin lalu.
“Bagi saya, UAS terasa cukup sulit. Untuk itu, saya mempersiapkan segala materi dengan matang dan bertanya kepada dosen tentang materi yang belum saya dipahami,” kata Syifa Fauziah, mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBSI).
Seperti biasa, satu minggu sebelum UAS dilaksanakan para mahasiswa/Ii diperkenankan untuk menikmati minggu tekun. Hal ini sangat penting karena setiap mahasiswa/i membutuhkan persiapan yang matang dalam menghadapi Ujian Akhir Semester. Namun, realita yang terjadi justru tidak seperti itu. Ada beberapa jurusan yang terlihat masih melaksanakan perkuliahan pada saat minggu tekun. Di sisnilah terjadi sedikit pro konta di kalangan mahasiswa/i.
Sebagaimana dilansir Tim Smart News, salah seorang mahasiswa jurusan PBA, yang tidak mau disebut namanya, mengaku keberatan atas pelaksanaan perkuliahan pada saat minggu tekun. Menurutnya, minggu tekun seharusnya dipergunakan sebagai waktu untuk memperdalam materi dengan tenang sekaligus untuk me-refresh otak.
Namun ada juga mahasiswa yang mengaku tidak masalah dengan penggunaan waktu minggu tekun untuk kegiatan perkuliahan. Menurutnya, kampus adalah tempat yang kondusif untuk belajar.
Linda Pramita, ketua Lingkar Sastra Tarbiyah (LST), misalnya, memberikan respon positif terhadap pelaksanaan ujian UAS. “Meskipun UAS dilaksanakan sangat cepat, dengan persiapan yang matang kita pasti bisa melaksanakannya,” ucapnya ketika diwawancarai Tim Smart News di tempat pelatihan teater.
Ia juga memberikan tips bagi rekan mahasiswa/i yang akan melaksanakan UAS. Menurutnya, dalam melaksanakan UAS sebaiknya dibawa enjoy. Karena jika UAS dihadapi dengan tegang justru tidak akan efektif terhadap kerja otak.
Pengalaman tahun kemarin, ketika para mahasiswa/I tidak bisa mengejarkan soal UAS, bermacam-macam komentar yang keluar. Ada yang menjadikan organisai segabagai alasan, ada pula yang memang tidak terlalu peduli degan UAS.
“Jangan pernah menjadikan organisasi sebagai tumbal atas jeleknya Indeks Prestasi (IP),” kelakar mahasiswa jurusan PAI yang tidak mau disebut namanya. “Justru dari organisasi seharusnya kita banyak belajar tentang bagaimana bersikap profesional,” tambahnya.
Menghadapi UAS yang telah di depan mata tersebut tidak lantas membuat semua mahasiswa tegang. Sabtu, 13 Juni 2009, Pojok Seni Tarbiyah (POSTAR), misalnya, mengerahkan utusan-utusannya dalam mengisi acara Tarbiyah Expo. Mereka menampilkan elemen-elemen penting di antaranya Band, PST, LST dan lain-lain. Kendati pelaksanaan UAS berlangsung, namun anggota POSTAR mengaku tetap aktif melaksanakan pelatihan rutin tiap minggu.
Menurut Tim Manajemen POSTAR, para anggota POSTAR mengaku tidak keberatan dengan latihan pada saat UAS. Yang terpenting adalah persiapan yang matang. Justru dengan adanya POSTAR, dapat mengurangi rasa tegang dalam melaksanakan UAS.
Nampaknya UAS bukanlah hal yang harus ditakuti. Dengan persiapanyang matang serta doa, semuanya insya Allah akan berjalan dengan lancar. Untuk itu, segenap Tim Redaksi Smart mengucapkan selamat menempuh Ujian Akhir Semester, semoga mendapatkan hasil yang terbaik. (Lia Kurniawati).
Posted in Buletin SMART by INDRA - POSTAR | 0 komentar
Email this post"Slamet Rahardjo" Slamet Raharjo: Seniman yang Banyak Mendapat Penghargaan
Kolom Seputar Sastra SMART Bulletin
Oleh : Linda Pramita *
POSTAR - Buletin Smart kolom seputar sastra edisi-edisi sebelumya mengangkat seorang Penulis karya-karya sastra . Tapi pada edisi kali ini saya akan mencoba mengangkat tokoh seniman teater Indonesia. Karena belum lengkap rasannya apabila kita hanya mengangkat penulis saja. Kami berusaha mengangkat tokoh seniman teater Indonesia yang sudah sangat terkenal di ranah perfilman Indonesia.
Slamet Rahardjo Djarot atau yang lebih dikenal dengan sebutan Slamet Rahardjo. Ia lahir di Serang Banten, 21 Januari 1949. Ia terkenal sebagai sutradara dan aktor yang sangat populer di dunia perfilman negeri ini. Slamet Rahadrjo memang sangat popular dalam dunia perfilman negeri ini dan selalu membintangi film layar lebar yang sangat fenomenal, seperti banyu biru, laskar pelangi, dan yang terbaru tahun ini adalah ketika cinta bertasbih. Akan tetapi yang kita ketahui Slamet Rahardjo akhir-akhir ini hanya membintangi peran pembantu namun hal itu tidak mengurangi keeksisannya dalam dunia perfilman Indonesia karena dimasa tuanya ini ia lebih suka berada dibelakang layar.
Menurut saya Slamet Rahardjo sangat berperan dalam kemajuan perfilman Indonesia. Karena ia banyak menghasilkan karya yang sangat popular sehingga ia sering mendapatkan penghargaan. Penghargaan yang telah ia raih diantaranya: Ranjang Pengantin (1974) memenangkan Piala Citra dalam katagori Aktor Utama, Badai Pasti Berlalu (1977) memenangkan Piala Citra dalam katagori Aktor Utama, Rembulan dan Matahari (1980). Disamping ia sering mendapat penghargaan di dunia perfilman, ia juga pernah membentuk sebuah sanggar kerja kreatif seni teater dan film Teater Populer bersama Teguh Karya sehingga teater ini berkembang menjadi wadah kelahiran pemain dan pekerja teater maupun film yang memiliki reputasi nasional maupun internasional
Perlu diketahui, kesuksesaan besar yang ia miliki berawal dari kebenciannya terhadap dunia yang digeluti saat ini. Padahal dulu ia pernah mengatakan “Kalau disekolah ada latihan, lampu saya padamkan”, betapa ironisnya dengan kenyataan saat ini. Sewaktu kecil, ia bercita-cita ingin menjadi orang nomor satu di Indonesia namun cita-citanya harus kandas ketika ia terjun didunia teater sekitar 30 tahun silam.
Aktor legendaris ini bisa kita setarakan dengan aktor-aktor senior seperti Dedi Petet, Dedi Mizwar, Kristin Hakim dan yang lainnya. Bahkan aktor muda Tora Sudiro pun mengakui karismatik seorang Slamet Rahardjo, dia merasa bangga dapat bekerjasama dengan beliau dalam beberapa film layar lebar, sebut saja banyu biru dan laskar pelangi.
Dengan kita mengenal lebih dekat seorang seniman legendaris ini, semoga kita dapat termotivasi dan terinspirasi untuk selalu memajukan kancah seni Indonesia.
*) Penulis adalah Ketua Umum Lingkar Sastra Tarbiyah (LST) dan Mahasiswi Jurusan PBA, Semester IV
Slamet Rahardjo Djarot atau yang lebih dikenal dengan sebutan Slamet Rahardjo. Ia lahir di Serang Banten, 21 Januari 1949. Ia terkenal sebagai sutradara dan aktor yang sangat populer di dunia perfilman negeri ini. Slamet Rahadrjo memang sangat popular dalam dunia perfilman negeri ini dan selalu membintangi film layar lebar yang sangat fenomenal, seperti banyu biru, laskar pelangi, dan yang terbaru tahun ini adalah ketika cinta bertasbih. Akan tetapi yang kita ketahui Slamet Rahardjo akhir-akhir ini hanya membintangi peran pembantu namun hal itu tidak mengurangi keeksisannya dalam dunia perfilman Indonesia karena dimasa tuanya ini ia lebih suka berada dibelakang layar.
Menurut saya Slamet Rahardjo sangat berperan dalam kemajuan perfilman Indonesia. Karena ia banyak menghasilkan karya yang sangat popular sehingga ia sering mendapatkan penghargaan. Penghargaan yang telah ia raih diantaranya: Ranjang Pengantin (1974) memenangkan Piala Citra dalam katagori Aktor Utama, Badai Pasti Berlalu (1977) memenangkan Piala Citra dalam katagori Aktor Utama, Rembulan dan Matahari (1980). Disamping ia sering mendapat penghargaan di dunia perfilman, ia juga pernah membentuk sebuah sanggar kerja kreatif seni teater dan film Teater Populer bersama Teguh Karya sehingga teater ini berkembang menjadi wadah kelahiran pemain dan pekerja teater maupun film yang memiliki reputasi nasional maupun internasional
Perlu diketahui, kesuksesaan besar yang ia miliki berawal dari kebenciannya terhadap dunia yang digeluti saat ini. Padahal dulu ia pernah mengatakan “Kalau disekolah ada latihan, lampu saya padamkan”, betapa ironisnya dengan kenyataan saat ini. Sewaktu kecil, ia bercita-cita ingin menjadi orang nomor satu di Indonesia namun cita-citanya harus kandas ketika ia terjun didunia teater sekitar 30 tahun silam.
Aktor legendaris ini bisa kita setarakan dengan aktor-aktor senior seperti Dedi Petet, Dedi Mizwar, Kristin Hakim dan yang lainnya. Bahkan aktor muda Tora Sudiro pun mengakui karismatik seorang Slamet Rahardjo, dia merasa bangga dapat bekerjasama dengan beliau dalam beberapa film layar lebar, sebut saja banyu biru dan laskar pelangi.
Dengan kita mengenal lebih dekat seorang seniman legendaris ini, semoga kita dapat termotivasi dan terinspirasi untuk selalu memajukan kancah seni Indonesia.
*) Penulis adalah Ketua Umum Lingkar Sastra Tarbiyah (LST) dan Mahasiswi Jurusan PBA, Semester IV
Posted in Buletin SMART by INDRA - POSTAR | 0 komentar
Email this post
Langganan:
Postingan (Atom)